Apa Itu Batuk Rejan (Pertusis)

PERTUSIS (BATUK REJAN) #1 - Berita RSUD Husada Prima

Apa Itu Batuk Rejan (Pertusis)- Batuk rejan adalah kondisi medis berupa infeksi bakteri di saluran pernapasan dan paru-paru yang ditandai dengan rentetan batuk keras secara terus-menerus. Batuk rejan adalah penyakit menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan hingga kematian apabila tidak segera ditangani dengan tepat, terutama bila terjadi pada bayi dan anak-anak. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pertusis, mari simak ulasan selengkapnya di bawah ini.


Apa itu Batuk Rejan (Pertusis)?

Apa Itu Batuk Rejan (Pertusis)- Pertusis, whooping cough, atau batuk rejan adalah penyakit infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan rentetan batuk keras dan batuk biasanya dimulai dengan adanya suara tarikan napas panjang melengking yang terdengar seperti suara “whoop”.

Pertusis kerap disamakan dengan penyakit TB atau tuberkulosis karena keduanya sama-sama menimbulkan gejala batuk secara terus-menerus. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama pada bakteri penyebabnya. Penyakit TB juga dinilai memiliki gejala yang cenderung lebih parah daripada gejala pertusis, seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, keringat di malam hari, hingga batuk berdarah.


Penyebab Batuk Rejan

Berbeda dengan TB yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyebab utama batuk rejan adalah bakteri Bordetella pertussis yang menyerang saluran pernapasan. Bakteri tersebut dapat menular melalui percikan air liur (droplets) dari penderita atau menyentuh permukaan benda-benda yang telah terkontaminasi.

Kemudian, bakteri masuk ke dalam tubuh dan melepaskan zat beracun, salah satunya pertussis toxin (PT). Racun tersebut dapat melemahkan sistem imun tubuh dan memicu infeksi atau peradangan. Saat terinfeksi, tubuh merespons dengan meningkatkan produksi lendir untuk memerangkap bakteri. Kemudian, lendir tersebut akan dikeluarkan melalui batuk.

Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pertusis adalah sebagai berikut:

  • Memiliki riwayat penyakit asma.
  • Berusia di bawah 1 tahun atau di atas 65 tahun.
  • Belum pernah mendapat vaksinasi pertusis (DPT).
  • Berinteraksi secara dekat dengan penderita pertusis.
  • Obesitas.
  • Kehamilan.
  • Mengunjungi atau tinggal di daerah dengan wabah pertusis.

Gejala Batuk Rejan

Gejala batuk rejan biasanya muncul pada 5–10 hari setelah seseorang terinfeksi bakteri Bordetella pertussis. Gejala tersebut dapat terbagi menjadi tiga tahap, yaitu fase kataralis, fase paroksismal, dan fase pemulihan. Berikut masing-masing penjelasannya.

A. Fase Kataralis

Pada fase kartalis, gejala biasanya akan berlangsung selama 1–2 minggu. Meski gejalanya termasuk cukup ringan, namun penderita tetap berisiko menularkannya kepada orang lain ketika sedang bersin atau batuk melalui percikan air liur. Adapun beberapa gejala yang muncul pada fase kataralis atau tahap awal adalah sebagai berikut:

  • Demam ringan.
  • Pilek dan hidung tersumbat.
  • Mata merah dan berair.
  • Bersin-bersin.
  • Batuk ringan, terutama di malam hari.

B. Fase Paroksismal

Setelah fase kataralis, batuk rejan akan memasuki tahap lanjut (fase paroksismal). Fase paroksismal umumnya berlangsung selama 1–6 minggu. Pada tahap ini, gejala dapat memburuk dan menimbulkan keluhan lain, seperti:

  • Batuk keras tanpa henti disertai dengan bunyi “whoop” saat sedang menarik napas panjang.
  • Dada terasa nyeri saat batuk.
  • Lelah setelah batuk.
  • Muntah setelah batuk.
  • Sulit mengambil napas.
  • Gelisah dan berkeringat.
  • Muka terlihat kemerahan atau kebiruan saat batuk.

Selain gejalanya yang semakin memburuk, durasi batuk yang dialami oleh penderita pada tahap ini juga bisa terus berlanjut hingga lebih dari 1 menit tanpa henti. Bahkan, frekuensi batuk juga bisa menjadi lebih sering, terutama di malam hari.

C. Fase Pemulihan

Fase pemulihan batuk rejan dapat berlangsung selama 2 hingga 3 minggu. Fase pemulihan ini biasanya ditandai dengan meredanya keparahan serta frekuensi batuk secara bertahap. Pada fase pemulihan, penderita tidak lagi dapat menularkan bakteri.


Diagnosis Batuk Rejan

Dalam mendiagnosis batuk rejan, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui gejala, gaya hidup, riwayat imunisasi, dan riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Dokter juga dapat merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang untuk pasien jika diperlukan, seperti:

  • Tes sampel lendir dari tenggorokan atau hidung, untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab batuk rejan.
  • Tes darah, untuk mendeteksi peningkatan sel darah putih (leukosit) akibat adanya infeksi dalam tubuh.
  • Rontgen dada, untuk melihat kondisi saluran pernapasan dan paru-paru secara lebih jelas, seperti mendeteksi adanya penumpukan cairan ataupun peradangan.

Pengobatan Batuk Rejan

Pengobatan batuk rejan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin, setidaknya pada 1–2 minggu pertama sejak munculnya gejala. Adapun pengobatan utama untuk batuk rejan yang biasanya dilakukan oleh dokter adalah pemeberian obat antibiotik, mengingat bahwa kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri.

Jenis antibiotik yang dinilai efektif untuk mengatasi infeksi bakteri penyebab pertusis adalah golongan makrolida, seperti clarithromycin, azithromycin, dan erythromycin. Ketiga obat tersebut dapat bekerja secara efektif, terutama pada infeksi yang masih berlangsung hingga 2–3 minggu. 

Hanya saja, obat-obatan tersebut tidak dapat diberikan kepada penderita yang usianya masih di bawah satu bulan. Biasanya, penderita batuk rejan khususnya bayi yang masih berusia di bawah satu bulan akan diberikan penanganan medis khusus oleh dokter. 

Selain itu, batuk rejan pada bayi atau anak-anak yang memiliki riwayat penyakit jantung, paru-paru, atau saraf dan mengalami gejala berat juga memerlukan penanganan khusus dan observasi secara lebih intensif, sehingga diperlukan perawatan di rumah sakit, seperti pemberian oksigen, infus, penyedotan lendir, dan penempatan di ruang isolasi.

Sementara itu, beberapa langkah perawatan yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah untuk membantu memaksimalkan pengobatan pertusis adalah:

  • Menyesuaikan porsi makan, seperti makan dengan porsi yang lebih kecil namun sering.
  • Mencukupi kebutuhan cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi.
  • Istirahat yang cukup dan mengurangi aktivitas berat.
  • Menggunakan humidifier agar kebersihan udara tetap terjaga.
  • Cuci tangan secara rutin dan menggunakan masker saat berbicara dengan orang lain atau berada di luar rumah.

Komplikasi Batuk Rejan

Apabila penderita tidak mendapatkan penanganan, batuk rejan dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada bayi atau anak-anak. Adapun beberapa komplikasi yang dapat dipicu oleh batuk rejan adalah sebagai berikut:

  • Tulang rusuk retak atau memar akibat batuk keras secara terus menerus.
  • Pneumonia.
  • Mimisan atau perdarahan otak.
  • Kejang.
  • Hernia abdominalis.
  • Kekurangan oksigen yang menyebabkan kerusakan otak.
  • Gangguan saluran pernapasan dan paru-paru di kemudian hari.
  • Infeksi telinga, seperti otitis media.

Cara Mencegah Batuk Rejan

Apa Itu Batuk Rejan (Pertusis)- Pada dasarnya, cara paling efektif dalam mencegah pertusis adalah dengan melakukan vaksinasi pertusis. Vaksin ini biasanya diberikan bersamaan dengan vaksin difteri dan tetanus (vaksin DPT) yang diberikan pada anak ketika berusia 2, 3, dan 4 bulan.

Agar mendapatkan manfaat yang lebih optimal, anak juga disarankan untuk melakukan imunisasi booster sebanyak 4 kali, yaitu di usia 18 bulan, 5 tahun, 10–12 tahun, dan 18 tahun. Selanjutnya, diulang setiap 10 tahun sekali. Selain itu, ibu hamil juga disarankan untuk menjalani vaksinasi booster ketika kehamilannya menginjak usia 27–36 minggu.

Vaksinasi ini bermanfaat untuk melindungi bayi dari batuk rejan di minggu-minggu pertama setelah kelahiran. Jangan lupa juga untuk menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan, dan meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang infeksi.

Penting untuk diketahui bahwa informasi pada artikel ini bertujuan untuk edukasi semata dan tidak bisa dijadikan acuan utama dalam mendiagnosis batuk rejan pada anak. Dalam hal ini, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pediatri (Anak) berpengalaman di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis yang tepat.


Jika Kamu ingin berkonsultasi bisa langsung konsultasi ke Dokter Spesialis Anak di RS. BHAYANGKARA TK.III BANJARMASIN

Berikut Daftar Dokternya:

  • dr. Astarini Hidayah, Sp. A
  • dr. Noor Maziyati Nida, Sp. A
  • dr. Ratih Kumala Sari, M.Ked.Klin., Sp. A

Jika kamu ingin berkonsultasi juga dengan Dokter Spesialis Bedah Anak di RS. BHAYANGKARA TK.III BANJARMASIN

Berikut Daftar Dokternya:

  • dr. Naisya Balela, Sp. BA

Baca juga postingan kami yang lain :

Sumber:

https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-batuk-rejan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *