
Apa Itu Kelainan Refraksi- Kelainan refraksi adalah kondisi ketika cahaya yang masuk ke dalam mata tidak dapat difokuskan dengan baik, sehingga membuat bayangan benda tersebut terlihat tidak tajam atau buram. Sebagai informasi, refraksi mata adalah proses masuknya cahaya dari bagian depan mata (kornea dan pupil) hingga tertangkap oleh retina.
Apa Itu Kelainan Refraksi- Kelainan refraksi merupakan masalah mata paling umum yang menyerang semua kelompok umur. Penelitian dan laporan WHO menunjukkan bahwa kelainan refraksi merupakan penyebab pertama gangguan penglihatan dan penyebab kedua kehilangan penglihatan di seluruh dunia, di mana 43% gangguan penglihatan disebabkan oleh kelainan refraksi.
Jenis-Jenis Kelainan Refraksi
Secara umum, kelainan refraksi dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu miopi (rabun jauh), hipermetropi (rabun dekat), astigmatisme (mata silinder), presbiopi (mata tua), dan anisometropia. Berikut penjelasan untuk masing-masing jenis kelainan refraksi.
- Miopi (Rabun Jauh)
Miopi atau rabun jauh adalah gangguan penglihatan ketika cahaya yang masuk ke dalam mata jatuh di depan retina. Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya kesulitan untuk melihat objek berjarak jauh dengan jelas. Adapun gejala yang muncul pada penderita miopi adalah sulit melihat benda yang berjarak jauh, mengantuk, dan sering memicingkan mata ketika melihat benda berjarak jauh.
Miopi dapat terjadi karena ukuran bola mata yang terlalu panjang dari depan ke belakang. Terkadang, kondisi ini juga dapat terjadi akibat bentuk lensa terlalu cembung atau kornea yang terlalu cekung.
- Hipermetropi (Rabun Dekat)
Hipermetropi atau rabun dekat merupakan kebalikan dari miopi. Jenis kelainan refraksi ini terjadi ketika cahaya yang masuk ke dalam mata jatuh di belakang retina. Akibatnya, penderita hipermetropi kesulitan untuk melihat objek berjarak dekat dengan jelas.
Kondisi ini biasanya juga dapat menyebabkan ketegangan pada otot mata, sehingga sering kali membuat penderitanya mengeluhkan pusing dan sakit kepala.
Secara umum, hipermetropi disebabkan oleh ukuran bola mata yang terlalu pendek dari depan ke belakang. Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi karena bentuk lensa yang terlalu cekung atau bentuk kornea yang terlalu datar.
- Astigmatisme (Mata Silinder)
Astigmatisme atau mata silinder adalah kondisi ketika mata mengalami penglihatan kabur dan berbayang akibat bentuk kornea, lensa, maupun retina yang tidak rata. Pada kelainan ini, cahaya tidak difokuskan pada satu titik. Mata silinder dapat membuat seseorang kesulitan untuk melihat objek yang berjarak dekat maupun jauh dan objek yang dilihat akan tampak berbayang.
- Presbiopi (Mata Tua)
Presbiopi atau mata tua merupakan jenis rabun dekat yang berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Kondisi ini terjadi karena menurunnya kemampuan akomodasi lensa sehingga dapat menyebabkan penderitanya kesulitan untuk melihat benda yang berjarak dekat.
Presbiopi berkembang ketika lensa mata menjadi kurang fleksibel dan kaku sehingga sulit untuk membiaskan cahaya pada retina mata. Kondisi ini umumnya terjadi pada orang yang berusia 40 tahun ke atas.
- Anisometropia
Anisometropia merupakan kondisi ketika kemampuan refraksi mata kiri dan mata kanan sangat berbeda jauh (perbedaan dioptri >2D). Kondisi ini menyebabkan penderitanya mengeluhkan pandangan yang berbayang, sehingga harus menyipitkan mata untuk melihat suatu objek dengan jelas.
Penyebab Kelainan Refraksi
Apa Itu Kelainan Refraksi- Kelainan refraksi dapat terjadi akibat perubahan bentuk kornea, lensa, atau bola mata secara keseluruhan. Kondisi ini dapat muncul akibat kelainan bawaan maupun berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Pada beberapa kasus, kelainan refraksi juga bisa terjadi karena efek samping tindakan pembedahan di area mata, seperti operasi katarak.
Gejala Kelainan Refraksi
Seluruh jenis kelainan refraksi dapat menimbulkan gejala utama berupa penglihatan kabur saat melihat objek dengan jarak tertentu. Selain penglihatan kabur, ada sejumlah gejala yang kerap dialami oleh penderita kelainan refraksi. Berikut selengkapnya.
- Melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu terang.
- Kesulitan untuk membaca buku atau melihat komputer.
- Sering menyipitkan mata ketika melihat sesuatu.
- Mata terasa tegang.
- Penglihatan ganda (diplopia).
- Nyeri pada mata.
- Sakit kepala.
Diagnosis Kelainan Refraksi
Dalam menegakkan diagnosis kelainan refraksi, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait keluhan pasien, riwayat medis pasien, dan riwayat penggunaan kacamata sebelumnya. Kemudian dokter juga dapat melakukan pemeriksaan mata secara keseluruhan.
Lalu, pasien akan diarahkan untuk membaca tanpa menggunakan alat bantu. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi kemampuan penglihatan pasien dalam membaca tulisan dengan jarak tertentu (visual acuity test) menggunakan berbagai bagan seperti snellen chart atau Jaeger chart (menguji ketajaman penglihatan dekat pada jarak membaca normal).
Setelah itu, dokter juga dapat mengarahkan pasien untuk membaca dengan alat bantu khusus, yaitu phoroptor. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat menentukan jenis lensa kacamata yang tepat untuk membantu memperbaiki kelainan refraksi yang dialami pasien.
Diagnosis dini kelainan refraksi sangat penting bagi anak-anak, karena kemajuan akademik anak dapat dipengaruhi oleh buruknya penglihatan. Selain itu, jika kelainan refraksi pada anak tidak ditangani tepat waktu, anak mungkin mengalami ambliopia (mata malas).
Pengobatan Kelainan Refraksi
Hingga kini, belum ada metode pengobatan khusus yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan kelainan refraksi. Pada dasarnya, pengobatan pasien bertujuan untuk membantu pasien agar bisa melihat dengan lebih jelas serta mencegah perburukan kemampuan penglihatan.
Secara umum, beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menangani kelainan refraksi adalah sebagai berikut.
Menggunakan kacamata: Dokter dapat memberikan kacamata dengan lensa cekung (minus) untuk penderita rabun jauh, lensa cembung (plus) untuk penderita rabun dekat, lensa silinder untuk penderita astigmatisme, serta lensa progresif atau multifokal untuk penderita presbiopi.
Lensa kontak: Dibandingkan dengan kacamata, lensa kontak dinilai lebih praktis dan nyaman untuk digunakan saat beraktivitas.
Bedah refraksi: Pada beberapa kondisi, dokter dapat melakukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki kelainan refraksi mata. Prosedur ini dilakukan dengan mengubah bentuk kornea mata secara permanen, sehingga dapat mengembalikan kekuatan fokus mata. Jenis bedah refraksi yang umum dilakukan adalah LASIK dan photorefractive keratectomy (PRK).
Pada dasarnya, kelainan refraksi adalah kondisi yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Maka dari itu, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat jika Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kelainan refraksi mata.
Jika Kamu ingin berkonsultasi bisa langsung konsultasi ke Dokter Spesialis Mata di RS. BHAYANGKARA TK.III
Berikut daftar Dokternya:
- Dr. dr. M. Ali Faisal, M. Sc., Sp. M
- dr. Ade Septiana, Sp. M
Sumber:
https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-kelainan-refraksi



