Apa Itu Epilepsi

Apa Itu Epilepsi- Epilepsi adalah salah satu penyakit kronis yang memiliki gejala khas berupa kejang-kejang. Penderita epilepsi sering kali mengalami kejang kambuhan yang muncul tanpa ada pemicu pastinya. Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada sistem saraf pusat sehingga menyebabkan kejang bahkan kehilangan kesadaran.

Perlu diketahui bahwa kejang memang gejala utama dari epilepsi. Tetapi, bukan berarti setiap orang yang mengalami kejang menderita epilepsi. Pada pengidap epilepsi, kejang akan berlangsung lebih dari sekali alias berulang dalam waktu yang sama atau berbeda.

Bahkan pada beberapa kasus, epilepsi dapat terjadi ketika seseorang tidur. Kemungkinan besar penyebabnya adalah adanya perubahan fase tubuh dari sadar ke tidur yang memicu aktivitas otak menjadi abnormal.

Apa Itu Epilepsi- Epilepsi adalah penyakit yang dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari bayi, orang dewasa, hingga lansia. Tetapi kondisi ini paling sering terjadi pada anak di bawah 2 tahun dan orang dewasa di atas 65 tahun.


Jenis-Jenis Epilepsi

Apa Itu Epilepsi- Penyakit epilepsi adalah kondisi yang terbagi atas dua jenis, di antaranya yaitu epilepsi umum dan parsial. Berikut masing-masing penjelasannya:

Epilepsi umum: Kondisi ini terjadi di kedua bagian otak, mencakup grand mal (tonik-klonik) yang berisiko menyebabkan hilang kesadaran, mioklonik (penyebab badan atau bagian tubuh tersentak singkat), serta tonik (tubuh menjadi kaku, diikuti kejang tangan atau kaki).

Epilepsi parsial: Kondisi ini terjadi pada bagian otak tertentu sehingga menimbulkan gejala yang mungkin berkaitan dengan masalah indera, kejang pada jari-jari atau kaki, dan tremor.


Penyebab Epilepsi

Masih belum diketahui secara pasti apa pemicu epilepsi. Tetapi, beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab epilepsi adalah sebagai berikut:

  • Gangguan perkembangan seperti autisme dan neurofibromatosis.
  • Cedera sebelum persalinan. Hal ini karena sebelum lahir, bayi sensitif terhadap kerusakan otak yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kekurangan oksigen, nutrisi buruk, atau infeksi pada ibu.
  • Penyakit menular seperti HIV/AIDS, meningitis, serta ensefalitis virus.
  • Kondisi otak yang menyebabkan kerusakan pada otak, seperti stroke dan tumor otak.
  • Cedera pada kepala akibat kecelakaan, terjatuh, atau cedera traumatik lainnya.
  • Pengaruh genetik apabila Anda memiliki riwayat keluarga dengan epilepsi.

Selain beberapa hal di atas, penyebab epilepsi juga terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Epilepsi simptomatik (sekunder): Jenis epilepsi yang penyebabnya dapat diketahui, yaitu karena adanya sejumlah faktor seperti luka berat di kepala, stroke, atau tumor otak.
  • Epilepsi idiopatik (primer): Jenis epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh faktor keturunan (genetik).

Faktor Risiko Epilepsi

Selain beberapa penyebab yang diduga dapat memicu epilepsi di atas, ada pula beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena epilepsi. Berikut di antaranya:

  • Riwayat kejang di masa kecil.
  • Infeksi otak.
  • Demensia.
  • Penyakit vaskular atau stroke.
  • Cedera pada kepala.
  • Riwayat keluarga dengan epilepsi.
  • Berusia di bawah 2 tahun atau lansia di atas 65 tahun.

Gejala Epilepsi

Pada sebagian besar kasus, gejala epilepsi adalah kejang yang terjadi secara spontan dan tidak berlangsung lama, tetapi berulang. Beberapa gejala lain yang dirasakan oleh bayi, anak-anak, atau orang dewasa pengidap epilepsi adalah sebagai berikut:

  • Tatapan kosong (terlalu lama fokus pada satu titik).
  • Gejala psikis.
  • Otot terasa kaku.
  • Merasa kebingungan sementara.
  • Gerakan menyentak pada kaki dan tangan yang tak terkendali.
  • Kejang/tremor pada sebagian tubuh atau keseluruhan.
  • Mengalami kejang yang disertai dengan tubuh menegang dan hilang kesadaran secara spontan sehingga penderitanya tiba-tiba terjatuh.

Diagnosis Epilepsi

Saat melakukan diagnosis, dokter akan menanyakan terlebih dahulu terkait gejala yang dialami serta riwayat kesehatan. Setelah itu, akan dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosis kondisi pasien.

Adapun beberapa tes penunjang yang dilakukan untuk mendiagnosis penyakit epilepsi adalah sebagai berikut:

  • Pemeriksaan neurologis: Bertujuan memeriksa fungsi otak, kemampuan motorik, serta perilaku pasien.
  • Tes darah: Untuk mengetahui adanya masalah kesehatan lain yang dapat menyebabkan epilepsi.
  • EEG (Electroencephalogram): Mendeteksi gelombang otak yang abnormal.
  • Tes pencitraan otak seperti CT Scan, MRI, fMRI, PET Scan, dan SPECT.

Pengobatan Epilepsi

Apa Itu Epilepsi- Epilepsi adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Sehingga, untuk penanganan epilepsi, dokter akan memberikan obat-obatan guna mengurangi frekuensi kejang. Apabila langkah tersebut tidak efektif, maka dokter akan menyarankan tindakan operasi.

Melalui prosedur operasi tersebut, dokter akan mengangkat area otak yang dapat menyebabkan epilepsi. Namun, perlu dipastikan bahwa area otak tersebut tidak mengganggu fungsi vital seperti komunikasi, penglihatan, atau pendengaran.

Pada intinya, epilepsi adalah kondisi ketika seseorang mengalami kejang secara tiba-tiba tanpa penyebab yang pasti. Apabila Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mengarah pada epilepsi, segera konsultasikan pada Dokter Spesialis Neurologi dari Siloam Hospitals guna mendapatkan penanganan medis secara tepat.


Jika Kamu ingin berkonsultasi bisa langsung konsultasi ke Dokter Spesialis Saraf di RS. BHAYANGKARA TK.III BANJARMASIN

Berikut daftar Dokternya:

  • dr. Meilda Sartika Dewi, Sp. S
  • dr. Margareta, Sp. S

Sumber:

https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-epilepsi

Baca juga postingan kami yang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *